Minggu, 17 Juni 2012

ORANG MELAYU DALAM SEJARAH SELAYAR


Oleh Ahmadin
Dosen Fakultas Ilmu Sosial UNM
(Disajikan pada International Seminary Fakulti Sains Sosial dan Kemanusiaan, Universiti Kebangsaan Malaysia, 5-6 Juli 2009.

Pendahuluan
         Selayar[1] yang terletak di ujung paling selatan pulau Sulawesi, dalam banyak hal memang tidaklah sepopuler Majapahit ataupun setenar Sriwijaya sebagai kerajaan besar di Nusa Jawa. Bahkan tidak kesohor seperti Gowa-Tallo (bekas kerajaan kembar di Sulawesi Selatan), terkenal seperti Luwu, ternama seperti Wajo, serta banyak dibicarakan seperti Bone dan kerajaan lainnya di Jazirah Sulawesi Selatan. Ia hanya sebuah pulau kecil dan tidak memiliki kerajaan besar serta memiliki wilayah kekuasaan yang tidak luas.[2] Meskipun demikian, dalam kitab Negara Kertagama karya Mpu Prapanca, telah menyebut Selayar sebagai bagian dari kekuasaan Majapahit. Bahkan di balik kondisi alam (struktur) spasial yang sebagian besar terdiri atas hamparan bebatuan,[3] pulau ini menyimpan suatu potensi hasil pertanian yakni komoditi berupa kelapa yang pada gilirannya mendorong Christian Heersink mengukuhkan Selayar sebagai Negeri Emas Hijau atau Center of Coconut Island.[4]
         Selayar baik sebagai nama sub-etnis Makassar maupun sebutan untuk spasial bernama kabupaten, tampaknya belum terlalu akrab di telinga semua orang. Bahkan dalam historiografi Indonesia, Selayar pun tampaknya belum mendapat tempat yang “layak” dan memadai serta masih kurang dilirik sebagai obyek kajian ilmiah. Dalam kekosongan ruang-ruang ilmiah tertentu menyangkut Selayar inilah, menjadi salah satu alasan fundamental kehadiran karya tulis ini.
Tulisan ini bermaksud mengurai beberapa sumber sejarah tentang Selayar yang berhubungan dengan orang Melayu. Sebut saja keberadaan Kerajaan Buki’, menurut cerita rakyat dan sumber tertulis kerajaan dalam lontara bilang terkait dengan kehadiran seorang anak Raja Riau (Melayu) ke Selayar awal abad Ke-16. Selain itu, menurut cerita rakyat Seorang saudagar Minangkabau yang bernama Ince Abdul Rahim dalam perjalanannya menuju Maluku bersama rombongan, pernah singgah  di Selayar. Sejak saat itu, kelompok saudagar kemudian sering singgah bahkan ada di antara mereka yang melakukan perkawinan dengan penduduk setempat. Keturunan mereka itulah yang menjadi penduduk yang menghuni Kampung Padang sekarang. Bahkan penamaan Selayar, pun diduga keras berasal dan diberikan oleh orang Melayu.[5]
Jejak kehadiran orang Melayu di Selayar, juga dapat ditelusuri melalui penggunaan nama penduduk terutama yang mendiami perkampungan bernama Padang dan nama tempat di Desa Buki. Kemudian hal yang tidak kalah penting yakni posisi Selayar dalam jaringan pelayaran dan perdagangan Nusantara sejak abad ke-13, yang memungkinkan berbagai suku bangsa singgah di tempat ini.

Selayar Dalam Jaringan Pelayaran Nusantara

Melalui catatan sejarah dalam buku Kartagama Pupuh XIV, Selayar sudah dikenal sejak masa pemerintahan kerajaan Majapahit pada abad ke-13. Sebagaimana disebutkan bahwa: “…tersebut pula pulau-pulau Makassar, Buton, Banggawi, Kunir, Galian serta Selayar, Sumba, Solor Muar. Lagi pula Wanda (n), Ambon, atau pulau Maluku, Wamin, Seram, Timor, dan beberapa lagi pulau yang lain”.[6] Hal ini menunjukkan bahwa bersama beberapa tempat lain di Indonesia, Selayar telah memiliki peran penting terutama terkait hubungan masyarakatnya dengan dunia luar. Dengan kata lain, jika Selayar dijadikan sebagai tujuan pelayaran baik tujuan utama maupun untuk keperluan transit, berarti motifinya terkait dengan beberapa peran penting.
Bukti lain mengenai peran penting Selayar sejak abad ke-13, dapat diketahui melalui hasil pengamatan terhadap temuan fragmen-fragmen keramik di Gantarang Lalangbata. Dari hasil observasi diketahui bahwa keramik ini berasal dari Dinasti Yuang (abad Ke-13 dan 14) yang berbentuk poci kecil berwarna putih. Hal ini menunjukkan bahwa Selayar telah berkiprah pada abad ini dan tentu saja Kerajaan Gantarang berperan penting pula. Kerajaan ini dipimpin oleh Raja Baka, dengan kehidupan adat-istiadat khas yang ditunjukkan.[7]
Dalam naskah hukum perdagangan dan pelayaran “Ammana Gappa” yang berbahasa Bugis, Selayar juga telah disebutkan sebagai salah satu daerah tujuan niaga. Kemudian mengingat letak geografis Selayar yang sangat strategis bagi pelayaran, daerah ini dijadikan juga sebagai satu bandar transit untuk menunggu musim berlayar yang baik. Hal ini tentu dipahami mengingat sistem pelayaran pada masa itu masih sangat tergantung pada muson atau arah hembusan angin.[8] Peran penting pulau Selayar juga dijelaskan oleh Schrieke bahwa pada masa itu kapal-kapal/yang memuat barang-barang dagangan pada muson timur berlayar melewati Sumatra, Borneo, Patani dan Siam, sedangkan pada muson barat melewati Batam, Bali, Bima, Solor, Timor, Alor, Selayar, Buton, Maluku dan Mindanao.[9]
Dalam sumber yang sama juga dijelaskan mengenai kedudukan Selayar abad ke-17, saat berada di bawah kekuasaan Gowa. Selayar pada masa ini merupakan jalur perdagangan yang melewati pelabuhan Tuban, Gresik, Surabaya, India, dan Asia Selatan. Sejak Perjanjian Bogaya 1667 antara Gowa dan Belanda, Selayar menjadi daerah kekuasaan Belanda (VOC). Perjanjian ini didorong oleh keinginan Belanda mengambil alih monopoli perdagangan rempah-rempah di Indonesia bagian Timur. Bahkan lebih dari itu, jalur perdagangan keramik melalui Philipina, kepulauan Nusantara, Afrika Timur, dan Timur Tengah, ingin dikuasainya. 
Sumber lain menjelaskan bahwa Sejak Makassar ditaklukkan 1667, pemerintah kolonial telah membangun jalur pelayaran yakni Batavia, Semarang, Surabaya, Makassar, Buton, Amboina, Ternate dan kembali mengikuti jalur yang sama setiap tahunnya. Dalam perkembangan selanjutnya, tahun 1832 ditambah satu jalur perdagangan pesisir dari Makassar, Bantaeng, Selayar, Buton, Selayar, Bantaeng, Makassar. Jalur perdagangan pesisir ini diperluas ketika Koninklijk Paketvaart Maatschappij (KPM) mengambil alih kegiatan perdagangan maritim pemerintahan Kolonial dengan membuka jalur pelayaran ke-10 yang beroperasi setiap 4 minggu yang berlaku sejak 17 Januari 1891 dan bermula di Makassar, Bantaeng, Bulukumba, Selayar, Sinjai, Palima, Palopo, Buton, Kendari, Buton, Palopo, Palima, Sinjai, Bonerate, Selayar, Bulukumba, Bantaeng, Makassar, Ampenan, Bali-Buleleng, Surabaya, Singapura, untuk kemudian kembali ke Makassar dan menelusuri jalur itu lagi.[10]
Peranan penting Selayar dapat juga dilihat pada data akhir abad ke-18 yakni saat perdagangan Makassar mengalami kemerosotan (kemunduran). Penyebabnya yakni karena Bone mengembangkan pelabuhan Pare-Pare dan Bonerate bagian pelayaran niaga ke arah barat dan adanya boikot penduduk (setelah masuknya Inggris).[11] Bukti lainnya mengenai peran penting Selayar dalam jaringan pelayaran dan perdagangan, yakni pertumbuhan jumlah perahu pada dekade 1870-an. Bahkan disebutkan pedagang dari Bone dan Tanete terlibat dalam aktivitas ini. Demikian pentingnya peran pulau ini, sehingga digambarkan menyerupai Pota, Reo, dan Bari di Manggarai (Flores Barat), situasi di Buleleng (Bali), Ampenan (Lombok), Gresik (Jawa), Banjarmasin, Pagatan (Kalimantan), Ambon, dan Sumbawa.[12]  
Data lain juga menjelaskan bahwa pada awal abad ke-20, komoditi utama dalam perdagangan adalah kopra. Dalam perdagangan kopra ini, Selayar memiliki andil yang sangat penting, dimana daerah ini tercatat sebagai pemasok kopra dalam perdagangan antar pulau yakni dari Maluku, Marauke, Ternate, Gorontalo, Manado, dan Selayar. Komoditi yang menjadi primadona ini, banyak dibawa ke Makassar dan selanjutnya di ekspor ke Singapura.[13] Mengacu pada beberapa keterangan mengenai posisi geografis Selayar dalam jalur pelayaran Nusantara tersebut, maka sangat memungkinkan memang wilayah ini menjadi “tujuan” atau dijadikan daerah transit dalam aktivitas pelayaran. 

Jejak Kehadiran Orang Melayu di Selayar

Berbicara mengenai kehadiran orang Melayu di Selayar, tentu saja tidak dapat dipisahkan dengan beberapa faktor antara lain kondisi sosio-politik Indonesia abad ke-16. Kondisi yang dimaksud adalah masa pasca Kerajaan Malaka jatuh (1511) yang menyebabkan banyak pedagang Melayu Islam mengungsi dan mencari tempat baru untuk melakukan transaksi dagang. Kondisi ini juga disertai oleh pandangan orang Melayu menganggap orang Portugis sebagai orang kafir yang mesti dijauhi.[14]
Salah satu tujuan pelayaran mereka adalah Kerajaan Gowa, yang terkenal dengan bandarnya yakni Somba Opu. Mengenai kedatangan orang Melayu di Gowa (Makassar) sebagaimana dijelaskan dalam lontara, yakni sekitar tahun 1561 yakni pada masa pemerintahan raja Gowa X Tunipallangga (1561-1565).[15] Malahan menurut sumber sejarah lainnya, bahwa sejak setengah abad sebelumnya telah banyak orang Melayu datang ke Gowa untuk berdagang.[16]
Seorang berkebangsaan Inggris Silhordt menyebutkan bahwa tahun 1625, ribuan orang Melayu tinggal di Makassar. Sebagian besar dari mereka berasal dari Kerajaan Patani dan Johor. Selain itu, data menunjukkan bahwa tahun 1665 beberapa ratus warga dari Minangkabau dan Campa hidup di bawah perlindungan raja.[17] Pernyataan ini didukung oleh data bahwa eksodus orang-orang Melayu ke wilayah timur Indonesia masih berlanjut hingga paruh pertama abad ke-17 disebabkan oleh blokade Belanda atas Selat Malaka serta adanya serangan-serangan di atas kapal di setiap tempat di belahan Timur Nusantara. Bahkan proses menghilangnya para pedagang Melayu di Malaka, berlanjut hingga Inggris datang ke Malaya akhir abad ke-18 dimana mereka tidak menemukan orang Melayu lagi.[18]
Uraian mengenai motif persebaran orang-orang Melayu ke dunia Timur Nusantara tersebut, merupakan pondasi ilmiah untuk menelusuri kehadiran orang Melayu di Selayar. Pertama, posisi Selayar dalam jaringan pelayaran dan perdagangan Nusantara dari Barat ke Timur atau sebaliknya, menjadi alasan kuat yang memungkinkan orang Melayu singgah atau beberapa di antaranya tinggal menetap di pulau yang juga akrab dikenal dengan sebutan Tanadoang ini. Kedua, pada kurun waktu kedatangan orang-orang Melayu di Gowa, Selayar berada di bawah kekuasaan kerajaan ini sehingga kontak antar keduanya bukan tidak mungkin melibatkan orang-orang Melayu yang notabene sangat dekat dengan penguasa Kerajaan Gowa. 
        Selain itu, catatan sejarah juga menunjukkan bahwa ketika orang Portugis mengunjungi pelabuhan Siang, mereka mendapatkan penjelasan bahwa pedagang-pedagang muslim dari Patani, Pahang dan Ujung Tanah telah tinggal di Selayar sejak Tahun 1480. Kedatangan para ahli Melayu ini, selain berdagang secara tidak langsung mereka juga ikut menyebarkan agama Islam di Selayar.[19]
Catatan sejarah Selayar lainnya yang menjelaskan hal ikhwal mengenai Orang Melayu, yakni terkait dengan keberadaan sebuah kerajaan yang pernah berdiri di Tanadoang. Kerajaan yang dimaksudkan adalah Buki yakni nama salah satu dari 4 (empat) kerajaan kecil sebelum masuknya pengaruh Asing di daerah ini.  Berdasarkan catatan yang termaktub dalam sebuah lontara[20] bahwa kerajaan-kerajaan di Selayar adalah Kerajaan Gantarang, Buki, Putabangun, dan Saluk yang kemudian menjadi Kerajaan Bontobangun.[21]
Khusus mengenai keberadaan Kerajaan Buki’, menurut cerita rakyat bahwa nama Buki’ berasal dari kata “bukit”. Sumber sejarah kerajaan ini tertulis dalam lontara bilang (tulisan harian atau silsilah raja), yang menceritakan bahwa dahulu seorang anak Raja Riau (Melayu) diasingkan karena selalu membuat keributan dalam kerajaan. Anak Raja Riau tersebut kemudian berangkat menggunakan kapal namun tidak pernah sampai pada tujuannya. Sang nahkoda kapal berkata: “kita salah layar”. Perkataan nahkoda tersebutlah kemudian yang dikatakan (atau dianggap) sebagai asal mula nama Selayar. Anak Raja Riau tiba di sebuah bukit yang kemudian menjadi asal nama Kerajaan Buki’, yang diperkirakan muncul sejak awal abad Ke-16. Salah satu tinggalan dari kerajaan Buki’ adalah Sapo Lohe (istana Kerajaan Buki’) yang merupakan pusat pemerintahan. Tinggalan lain berupa kuburan tua di sekitar Sapo Lohe, Buhung Bone-bone (tempat permandian permaisuri dan putra-putranya), dan benda pusaka kerajaan yang tersimpan hingga saat ini.[22]    
Sumber lain menjelaskan bahwa dahulu kala ada seorang anak raja Riau (Melayu) yang notabene gemar berkelahi, suka membuat keributan baik dalam maupun di luar wilayah kerajaan dan sukar diatur oleh ayahnya, kemudian diasingkan (dibuang) ke Selayar. Proses pengasingan tersebut, dimulai dengan sidang terbatas yang dihadiri oleh para hulubalang (penasihat raja) dan hasil sidang pun memutuskan bahwa untuk menjaga kestabilan negeri, maka solusi terbaik adalah putra raja ini harus diasingkan. Karena itu, dibuatlah tiga buah perahu berikut persiapan logistiknya, nahkoda, awak kapal, serta pengawal. Segera setelah ketiga perahu selesai, maka diadakanlah sebuah upacara perpisahan dan dalam upacara perpisahan tersebut, sang raja  berkata:

“Wahai, puteraku walaupun kamu akan kuasingkan kan tetap anakku, dan ketahuilah bahwa tidak ada bekas anak. Aku tidak akan membencimu, yang aku benci hanyalah kelakuanmu dan tabiatmu yang sering melawan perintahku sedangkan saya adalah ayahmu sekaligus rajamu, bahkan nasihat-nasihat ayahmu pun kamu tidak hiraukan, kamu sering membikin kerusuhan dan sering melanggar adat (hukum) yang berlaku dalam kerajaan kita, bahkan yang paling memalukan bagi ayah, ayahmu kini tidak mampu lagi memerintah kamu, sedangkan kamupun adalah rakyatku juga. Oleh karena itu, wahai anakku pergilah kamu kemana engkau mau, bersama nahkoda, awak perahu, dan pengawalmu. Bilamana kamu tiba di tempat tujuan, dirikanlah kerajaan sendiri, di sana kamu dapat berbuat sesuka hatimu, karena itulah kemauannya dan itulah yang kamu cari. Kelak kemudian hari sebagian dari keturunanmu akan kembali dan tinggal di tanah leluhurnya. Selamat jalan dan do’a ayah menyertaimu”.[23]

         Segera setelah acara perpisahan digelar, maka berangkatlah sang putera raja ke arah timur bersama pengawalnya. Sekitar sebulan lamanya berlayar, laut kelihatan pun bundar dan sebuah pulau pun tak kelihatan selama berhari-hari, ketika itu nahkoda berkata: “kita salah layar”. Namun tidak lama kemudian sang putera raja melihat bintik hitam, lalu beliau memerintahkan kepada nahkodanya untuk menuju ke bintik hitam tersebut. Ketika agak mendekat, maka tampaklah bintik hitam tadi seperti bukit, kemudian nahkoda pun mendapat perintah untuk segera berlabuh di pantai barat bukit tersebut. Tempat berlabuh ketiga kapal ini oleh penduduk dinamakan Sagangia (tempat yang kita sayangi). Sang putera raja pun beristirahat sejenak di Baruyya. Sebagai pendatang sekaligus untuk menjaga keamanan, maka mereka memutuskan untuk tinggal di atas sebuah bukit dan mereka pun lalu memulai kehidupan serta komunitas ini berkembang  dari waktu ke waktu.[24]  
         Belum diketahui bagaimana bentuk dan corak pemerintahan Kerajaan Melayu tersebut, namun diperkirakan hukum rimba (siapa yang kuat maka dialah yang berkuasa) merupakan corak kekuasaan pada masanya. Kepemimpinan orang Melayu di Tanadoang tidak berangsung lama dan hanya sampai pada masa kekuasaan Angrong Guruya Raja ri Buki (keturunan anak raja Melayu). Segera setelah itu, kekuasaan berada di tangan raja dari keturunan Kerajaan Gowa yakni Laki Padada (Putra Sombaya ri Gowa) yang mempersunting putri  Angrong Guruyya yakni Bissu Kati. Dari hasil perkawinan inilah kemudian melahirkan seorang putra bernama Patta Buki’ Dg. Sitaba (Lalaki Pertama Kerajaan Buki’ yang memerintah sekitar tahun 1557-1611) dan kemudian mempersunting Bissu Patima Daeng Suginna (Sepupu puteri penguasa Salu’).[25] 
         Berdasarkan sumber lisan (cerita rakyat) dan sumber tertulis (lontara) setempat, ungkapan sang putera raja yakni kita salah layar itulah yang dianggap asal-usul penamaan Selayar. Demikian pula istilah bukit yang mereka lihat saat berlayar sekaligus tempat awal mereka memulai mengembangkan komunitas, itulah yang dianggap asal nama Kerajaan Buki. Bahkan Baruia pun dianggap berasal dari ungkapan sang putera raja yakni “kita BARU tiba YA”.[26]  
         Jejak kehadiran orang Melayu di Selayar lainnya, dapat diketahui melalui penamaan pemukiman yang bersimbolkan Melayu yakni Kampung Padang. Pemukiman ini berada di wilayah administratif Kecamatan Bontoharu Kabupaten Selayar dan secara geografis terletak di bibir pantai barat pulau ini. Dengan demikian, sangat besar peluang untuk dijadikan tempat persinggahan bagi kapal-kapal untuk menambah perbekalan dan pesediaan air minum serta berlindung dari cuaca yang buruk dalam suatu musim pelayaran.[27]
Selain itu, menurut cerita rakyat Seorang saudagar Minangkabau yang bernama Ince Abdul Rahim dalam perjalanannya menuju Maluku bersama rombongan, pernah singgah  di Selayar. Sejak saat itu, kelompok saudagar kemudian sering singgah bahkan ada di antara mereka yang melakukan perkawinan dengan penduduk setempat. Keturunan mereka itulah yang menjadi penduduk yang menghuni Kampung Padang sekarang. Bahkan penamaan Selayar, pun diduga keras berasal dan diberikan oleh orang Melayu.[28]
Realitas empiris ini juga didukung oleh kenyataan bahwa di Padang dewasa ini banyak didapati nama penduduk yang diawali dengan kata Ince, Baba, Puang dan berbagai ciri nama bangsa asing lainnya. Melalui daftar nama para pemilik bagan perahu yang tinggal di Padang, ditemukan nama-nama seperti Ince Usman, Ince Bau’, Ince Salman, Ince Irwan, dan lain-lain. Meskipun demikian, dewasa ini penduduk kampung ini sudah heterogen sebagaimana tampak nama-nama seperti: Baba Desan, Nurdin Coa, Angko’, Yo’ang, dan lain-lain. Bahkan nama-nama keturunan Bugis juga terdapat di Padang seperti Beddu Rahman, Sahide’, Andi Sahibo’, dan seterusnya.[29] Bila ditelusuri lebih jauh proses interaksi sosial yang berlangsung di Kampung Padang, akan diperoleh kesan menarik untuk dikutip yakni sudah demikian sulitnya membedakan mereka. Masyarakat keturunan Bugis, Melayu (Sumatera), dan Cina yang telah mampu menggunakan bahasa lokal (Selayar) secara fasih, tak ubahnya seperti suku Selayar tulen.  
Pengaruh Melayu lainnya di Selayar juga tampak pada penggunaan istilah (bahasa) untuk menggambarkan spasial seperti: Tana Malaju (Tanah Melayu), Sa’la Silajara (Selat Selayar), Kampung Sela (dari kata Selat), Desa Kohala (dari kata Kuala), dan lain-lain. Bahkan menurut beberapa penelitian menyebutkan bahwa terdapat sekitar 115 nama tempat seperti selat, pulau, lokasi, kampung dan nama sungai menggunakan istilah dari bahasa Melayu. Selain itu, terdapat lebih dari 4.000 kosa kata bahasa Selayar berasal dari bahasa Melayu.

PENUTUP

Berdasar pada beberapa data yang ada, menunjukkan bahwa orang Melayu secara historis memiliki pengaruh yang sangat berarti di Selayar. Pertama, orang-orang Selayar terutama yang berasal dari Kerajaan Buki merupakan keturunan Melayu (berdarah Melayu), meskipun beberapa waktu kemudian bercampur dengan Gowa terutama sejak terjadi perkawinan antara Laki Padada (Putra Sommbaya ri Gowa) dengan Bissu Kati (keturunan Putra Raja Melayu) sekitar tahun 1541. Kedua, sebuah kampung bernama Padang yang terletak di wilayah administratif Kecamatan Bontoharu diduga kuat pernah menjadi basis pemukiman orang-orang Melayu. Ketiga, pengaruh Melayu di Selayar juga tampak pada penggunaan istilah atau penyebutan bagi nama tempat (spasial) yang menunjukkan atau berciri (berkonotasi) Melayu. Bahkan beberapa di antara orang Selayar cenderung menggunakan nama yang bercorak Melayu.








DAFTAR PUSTAKA

Ahmadin. 2006. Pelautkah Orang Selayar: Tanadoang Dalam Catatan Sejarah Maritim. Yogyakarta: Ombak.
------------. 2008. Selayar Serambi Mekkah: Mengapa Orang Berhaji Ke Gantarang. Makassar: Pustaka Refleksi.
------------. 2009. Ketika Lautku Tak Berikan Lagi. Makassar: Rayhan Intermedia.
Andaya, Barbara Watson dan Leonard Y. Andaya. 1982. A History of  Malaysia. London: The MacMillan Press Ltd.
Bassett, D.K. British Trade and Policy in Indonesia and Malaysia in the Late Eighteenth Century. (Hull Monmographs on South-East Asia No. 3, 1971.
Biro Pusat Statistik. 1999. Selayar Dalam Angka. Benteng: BPS.. 
D.K. Bassett. British Trade and Policy in Indonesia and Malaysia in the Late Eighteenth Century. Hull Monographs on South-East Asia No. 3, 1971.
Effendy, Muslimin A.R. 2005. Jaringan Perdagangan Makassar Abad XVI-XVII. Wonogiri: Bina Cipta Pustaka
Frederick I. Hermawan. 1986. Perkembangan Kegiatan Maritim: Sebuah Pengantar Studi Ilmu Maritim. Bandung: Alumni.
Heersink, Christian. 1995. The Green Gold of Selayar: A Socio-Economic history of an Indonesian Coconut Island. Amsterdam: Vriye Universiteit.
Kadir, Said Anwar dan Mustakim. 2006. Kisah Sultan Pangali Patta Raja. Benteng: Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Kabupaten Selayar.
Ken, Wong Lin. 1961. The Trade of Singapore 1819-1869. Singapore: Tie Wah Press.
Limpo, Syahrul Yasin dkk. 1966. Profil Sejarah, Budaya dan Pariwisata Gowa. Sungguminasa: Pemerintah Daerah Tingkat II Gowa kerjasama dengan Yayasan Eksponen.
Mappangara, Suryadi dan Irwan Abbas. 2003. Sejarah Islam di Sulawesi Selatan. Makassar: Biro KAPP Setda Provinsi Sulawesi Selatan bekerjasama dengan Lamacca Press.
Mappangara, Suryadi, ed. 2004. Ensiklopedi Sejarah Sulawesi Selatan Sampai Tahun 1905. Makassar: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.
Mattulada. 1982. Menyusuri  Jejak Kehadiran Makssar Dalam Sejarah. Jakarta: Bhakti Baru.
M. Fadlan S. Intan. “Industri Gerabah Kolo-Kolo Selayar” dalam Jurnal Kebudayaan Nomor 12 Tahun VI 1996/1997.
Mulyono, Hadi. 1982. Studi Kelayakan Tentang Nekara Perunggu  Selayar. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Pemugaran dan Perlindungan Sulawesi Selatan.
Nur Baso. 1981. Kebudayaan Selayar dan Hubungannya dengan Kebudayaan Daerah lainnya. Benteng: Depdikbud.
N. Harkantiningsih. 1983. Keramik Hasil Penelitian Arkeologi Pulau Selayar Sulawesi Selatan. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.
Pelras, Christian. “Celebes-Sud Avant l’Islam Selon Les Premiers Temoignages Etrangers”dalam Archipel 29. Paris, 1985.    
Poelinggomang, Edward L. 2002. Makassar Abad XIX: Studi Tentang Kebijakan Perdagangan Maritim. Jakarta; Kepustakaan Populer Gramedia.
--------------. 2008. Kerajaan Mori: Sejarah Dari Sulawesi Tengah. Jakarta: Komunitas Bambu.
Rahim, Aminuddin. 2005. Asal-Usul Nama, Bahasa, dan karakteristik Suku Selayar Eks Kerajaan Buki: Dari Era Melayu ke Gowa. Makassar: Yayasan Sela Buki Jaya.
Reid, Anthony. 1982. “Southeast Asia in the Age of Commerce” dialihbahasakan oleh Mochtar Pabotinggi. Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1440-1680. Jilid I. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
------------. 1990. Dari Ekspansi Hingga Krisis II: Jaringan Perdagangan Global Asia Tenggara 1450-1680. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.   
Said, Andi Muhammad, dkk (ed). 2007. Directory of Cultural Tourism Potency Selayar Island South Sulawesi Indonesia. Makassar: Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Makassar bekerjasama dengan Ujungpandang Heritage Society.
Tobing,  D.L. 1961. Hukum Pelayaran dan Perdagangan Ammanagappa. Makassar: Yayasan  Kebudayaan Sulawesi Selatan dan Tenggara.
Wong Lin Ken. 1961. The Trade of Singapore 1819-1869. Singapore: Tie Wah Press.
Yamin, Muhammad 1945. Gajah Mada. Jakarta: Balai Pustaka.



[1] Wilayah kabupaten berciri “maritim” ini terdiri atas 12 pulau besar dan sebanyak 112 pulau kecil. Pulau besar di antaranya terdiri atas: Selayar, Bahuluang Tambolongan, Polassi, Pasi, Kayuadi, Tanah Jampea, Tana Malala, Bembe, Lambego, Bonerate, dan Kalaotoa. Gugusan pulau-pulau kecil antara lain: Malimbu, Guang, Latondu Besar, Latondu Kecil, Tarupa Besar, Tarupa Kecil, Belang-Belang, Lantingiang, Jinato, Bungi Kamase, Pasitallu Bau, Pasitallu Tangga, Pasitallu Raja, Tambuna Caddi, Tambuna Lompo, Ampallasa, Bunginbit, Kalu Batang, Kauna, Nambolaki, Tanga, Sirange, Ketela, Nona, Bangge, Janggut, Batu, Tetarang, Madu dan beberapa pulau kecil lainnya. Biro Pusat Statistik. Selayar Dalam Angka. (Benteng: BPS, 1999), hlm. 1. 
[2] Berdasarkan catatan yang termaktub dalam sebuah lontara yang ditemukan di Selayar, menyebutkan bahwa terdapat 4 (empat) kerajaan kecil sebelum masuknya pengaruh Asing di daerah ini. Keempat kerajaan yang dimaksud, masing-masing Kerajaan Gantarang, Buki, Putabangun, dan Saluk yang kemudian menjadi Kerajaan Bontobangun. Hadi Mulyono, Studi Kelayakan Tentang Nekara Perunggu  Selayar (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Pemugaran dan Perlindungan Sulawesi Selatan, 1982), hlm. 17.
[3] Kegersangan tanah Selayar berserta beberapa pulau lainnya seperti: Maluku Selatan, Kepulauan Aru, dan Buton abad XV disebutkan dalam Anthony Reid. “Southeast Asia in the Age of Commerce” dialihbahasakan oleh Mochtar Pabotinggi. Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1440-1680. Jilid I (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1982), hlm. 23.
[4] Christian Heersink. The Green Gold of Selayar: A Socio-Economic history of an Indonesian Coconut Island (Amsterdam: Vriye Universiteit, 1995), hlm. 121-142.   
[5] Lihat Ahmadin. Pelautkah Orang Selayar?: Tanadoang Dalam Catatan Sejarah Maritim (Yogyakarta: Ombak, 2006).
[6] Lihat Slamet Mulyana op. cit., hlm. 280; Muhammad Yamin. Gajah Mada (Jakarta: Balai Pustaka, 1945), hlm. 56; Mattulada. Menyusuri Jejak Kehadiran Makssar Dalam Sejarah (Jakarta: Bhakti Baru, 1982), hlm. 8.
[7] M. Fadlan S. Intan. “Industri Gerabah Kolo-Kolo Selayar” dalam Jurnal Kebudayaan Nomor 12 Tahun VI 1996/1997, hlm. 77.
[8] Ibid., hlm. 74.
[9] N. Harkantiningsih. Keramik Hasil Penelitian Arkeologi Pulau Selayar Sulawesi Selatan. (Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, 1983); M. Fadhlan S. Intan. (1996/1997), hlm. 74; Lihat juga Ahmadin. Selayar Serambi Mekkah: Mengapa Orang Berhaji ke Gantarang (Makassar: Pustaka Refleksi, 2008).
[10] Edward L. Poelinggomang. Kerajaan Mori: Sejarah Dari Sulawesi Tengah (Jakarta: Komunitas Bambu, 2008), hlm. 85; Edward L. Poelinggomang. Makassar Abad XIX: Studi Tentang Kebijakan Perdagangan Maritim (Jakarta; Kepustakaan Populer Gramedia, 2002), hlm. 298.
[11] Lihat ibid., hlm. 98; Barbara Watson Andaya dan Leonard Y. Andaya. A History of  Malaysia. (London: The MacMillan Press Ltd, 1982), hlm. 107; Wong Lin Ken. The Trade of Singapore 1819-1869. (Singapore: Tie Wah Press, 1961), hlm. 16; D.K. Bassett. British British Trade and Policy in Indonesia and Malaysia in the Late Eighteenth Century  (Hull Monmographs on South-East Asia No. 3, 1971), hlm. 140.
[12] Heersink, op. cit., hlm. 100.
[13] Ibid., hlm. 258.
[14] Pengungsian para pedagang Melayu-Islam, ini pada gilirannya mempercepat pertumbuhan pelabuhan-pelabuhan di sepanjang pantai kepulauan Nusantara. Suryadi Mappangara, ed. Ensiklopedi Sejarah Sulawesi Selatan Sampai Tahun 1905.(Makassar: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, 2004), hlm. 321.
[15] Suryadi Mappangara dan Irwan Abbas. Sejarah Islam di Sulawesi Selatan (Makassar: Biro KAPP Setda Provinsi Sulawesi Selatan bekerjasama dengan Lamacca Press, 2003), hlm. 49. 
[16] Christian Pelras. “Celebes-Sud Avant l’Islam Selon Les Premiers Temoignages Etrangers”dalam Archipel 29 (Paris, 1985), hlm. 166-167.    
[17] Suryadi, 2003. loc. cit., lihat juga Anthony Reid. Dari Ekspansi Hingga Krisis II: Jaringan Perdagangan Global Asia Tenggara 1450-1680 (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1990), hlm. 94-98.   
[18] Muslimin A.R. Effendy. Jaringan Perdagangan Makassar Abad XVI-XVII (Wonogiri: Bina Cipta Pustaka, 2005), hlm. 127.  
[19] Said Anwar Kadir dan Mustakim. Kisah Sultan Pangali Patta Raja (Benteng: Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Kabupaten Selayar, 2006), hlm. 25.
[20] Masyarakat Sulawesi Selatan mempunyai suatu tradisi pencatatan atas kejadian-kejadian atau peristiwa penting secara teratur dan detail di atas daun lontar. Huruf yang digunakan untuk menuliskan informasi itu lebih populer dengan istilah Aksara Lontara yang disusun oleh Daeng Pamatte atas prakarsa Raja Gowa IX, Karaeng Tumapa’risi Kallona, pada 1538. Huruf ini terdiri dari 18 huruf (kini menjadi 19 huruf) yang biasa disebut het aude Makassarche letters chrift atau Huruf Makassar Tua. Baca Syahrul Yasin Limpo dkk. Profil Sejarah, Budaya dan Pariwisata Gowa. (Sungguminasa: Pemerintah Daerah Tingkat II Gowa kerjasama dengan Yayasan Eksponen ,1966), hlm. 47-50.  
[21] Mulyono, op.cit., hlm. 17.
[22] Andi Muhammad Said,, dkk (ed). Directory of Cultural Tourism Potency Selayar Island South Sulawesi Indonesia. (Makassar: Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Makassar bekerjasama dengan Ujungpandang Heritage Society, 2007), hlm. 5.
[23] Aminuddin Rahim. Asal-Usul Nama, Bahasa, dan karakteristik Suku Selayar Eks Kerajaan Buki: Dari Era Melayu ke Gowa (Makassar: Yayasan Sela Buki Jaya, 2005), hlm. 3.
[24] Ibid., hlm. 4
[25]  Lihat ibid., hlm. 107.
[26] Versi lain menjelaskan bahwa nama Selayar diberikan oleh Sultan Ternate yang pada suatu masa sedang melakukan Pelayaran. Karena itu, berkembanglah cerita bahwa Selayar itu merupakan terjemahan dari kata salah layar. Selain pengertian itu, ada sebagian lagi yang beranggapan bahwa kata “Selayar” berarti satu layar yang juga dimaknai melalui pendekatan bahasa. Bahkan diduga keras pemberian nama ini, diberikan oleh orang Melayu. Alasan ini berangkat dari pemaknaan terhadap penggunaan awalan ‘se’ dan kata layar, meskipun dalam beberapa bahasa daerah di Sulawesi Selatan juga dikenal pemakaian awalan se atau si. Baca Nur Baso, 1981, op. cit., hlm. 2.
[27] Jaringan pelayaran dan perdagangan Nusantara  sebelum dan sesudah kedatangan bangsa barat terbentuk dalam kerangka pelayaran dan perdagangan antar kawasan barat dan timur Nusantara. Pada saat itu jelas pelayaran dan perdagangan yang paling ramai di Nusantara ada 3 (tiga) yakni: “pertama, jalur yang menghubungkan antara Malaka dengan perairan Kepulauan Natuna, laut Sulawesi (pesisir utara pulau Kalimantan dan pulau Sulawesi) dan seterusnya kepulauan Maluku atau Philipina atau sebaliknya. Kedua, jalur yang menghubungkan antara kawasan barat dan timur Nusantara dengan melintasi perairan Laut Jawa, perairan Sulawesi Selatan (Selayar), perairan Sulawesi Tenggara, laut Banda dan seterusnya kepulauan Maluku atau sebaliknya. Ketiga, jalur yang menghubungkan pesisir utara Jawa, Madura, Nusa Tenggara, Laut Banda, dan terus kepulauan Maluku. Lihat selengkapnya pada D.L.Tobing. Hukum Pelayaran dan Perdagangan Ammanagappa (Makassar: Yayasan  Kebudayaan Sulawesi Selatan dan Tenggara, 1961),  hlm 123.
[28] Lihat Ahmadin. Pelautkah Orang Selayar?: Tanadoang Dalam Catatan Sejarah Maritim (Yogyakarta: Ombak, 2006).
[29]Anonim. “Daftar Nama-Nama Nelayan di Kampung Padang” (Dokumen Ketua Kelompok Nelayan). Ahmadin. Ketika Lautku Tak Berikan Lagi (Makassar: Rayhan Intermedia, 2009).



1 komentar:

  1. salam doc... saya minat sama doc... kunjungi wall saya www.facebook.com/abuhanifiah.lihin saya juga leluhurnya selayar - johor - sungai karang - serkat - benut

    salam kenal

    BalasHapus