Senin, 18 Juni 2012

MUSEUM SITUS CHALIO DI SOPPENG


Oleh Ahmadin
Dosen Fakultas Ilmu Sosial UNM
 
Soppeng merupakan salah satu kabupeten di jazirah Sulawesi Selatan dengan luas wilayah 1.500 km dan dihuni oleh mayoritas suku Bugis sebagai penduduk asli. Di bagian utara daerahnya berbatasan dengan Kabupaten Sidrap dan Wajo, di bagian timur serta selatan berbatasan dengan Bone dan Wajo, sedangkan di bagian barat berbatasan dengan Barru.
      Letak wilayah administratifnya antara 1190 40’ dan 1200 5’ Bujur Timur serta antara 40 8’ dan 40 30’ Lintang Selatan, dengan ketinggian bervariasi antara 100 hingga 200 meter di atas permukaan laut.
       Masyarakat yang terkenal giat bekerja dengan ciri ekonomi pertanian (sektor agraris) sebagai penghuni daerah ini, didukung oleh sungai-sungai yang pada umumnya bermuara di sebelah selatan dan barat. Sungai terbesar adalah Walanae yang berhulu di pegunungan Lompo Battang dan bermuara di danau Tempe. Lembah Walanae yang membentang dari arah utara ke selatan, merupakan daerah aluvial dan dapat dijadikan sebagai wilayah persawahan.
      Menikmati indahnya panorama alam berupa sungai, pengunungan maupun hamparan sawah, mengajak kita tidak hanya mengagumi masa sekarang tetapi juga harus mengetahui kondisi Soppeng jauh sebelum masa sekarang. Melihat daerah ini yang kaya akan sungai berarti secara historis menyimpan sejumlah peristiwa masa lalu yang menarik untuk ditelusuri, mengingat para pendukung kebudayaan terbesar utama di dunia umumnya berawal dari tepi sungai.
      Kenyataan tersebut terbukti pada orang Babilonia dan Assiria mengembangkan kebudayaan di Mezopotamia diantara sungai Eufrat dan Tigris, orang Mesir di tepi sungai Nil, orang Tiongkok di tepi sungai Hoang Ho, orang India di tepi sungai Gangga, dan beberapa pendukung kebudayaan dunia lainnya.
      Untuk menelusuri jejak kehidupan manusia purba di daerah ini, tentu membutuhkan sebuah media dan teknik tersendiri untuk dapat berdialog dengan masa lampau tersebut. Karena itu, museum Chalio yang menyimpang sejumlah alat dari batu yang pernah digunakan oleh manusia sekitar 2.000 tahun sebelum masehi dapat dijadikan sebagai media atau alat (teknologi) sekaligus sumber pengetahuan dasar bagi para peneliti.
      Di museum yang terletak sekitar 15 km dari kota Watansoppeng ini, menyimpang sejumlah artefak manusia purba, binatang purba seperti fosil babi rusa (celebechorus) dan gajah raksasa (stegodon dan archidiskodon celebensis). Situs ini mulai dicari sejak tahun 1946 dan pada tahun 1947 peneliti Robert van Heckern berkebangsaan Belanda menelusuri dan melakukan penelitian terhadap obyek guna mencari jejak okuvasi manusia purba yang diduga menjelajahi kawasan Asia Tenggara.
      Melihat alata-alat peninggalan manusia purba yang dimuseumkan di Chalio Cabenge, memberikan keterangan kepada kita bahwa kehidupan nenek moyang orang Soppeng telah berlangsung pada zaman neolitik (batu baru) dengan ciri kehidupan sektor pertanian (agraris). Bahkan telah berlangsung jauh sebelum masa itu yakni zaman paleolitik (batu tua) ditandai oleh ditemukannya kapak perimbas dan pisau batu sebagai ciri zaman ini. Bukti fisik lainnya dari aktivitas pertanian orang Soppeng selain bisa di temukan di Chalio, juga dapat disaksikan di beberapa tempat terutama jenis bangunan dan situs megalitik.
      Eksistensi Museum Chalio sebagai gudang penting tempat menyimpan aneka peninggalan manusia zaman purba sekaligus aset daerah kabupaten Soppeng, tidak akan memiliki arti apa-apa jika tidak di dukung oleh kesadaran historis masyarakat setempat.
      Selain itu, dapat dipastikan bahwa jika tidak ada perhatian masyarakat lokal ke arah pengembangannya, maka suatu saat benda-benda ini akan kehilangan arti seiring semakin terbatasnya orang yang mengetahui kisahnya. Bahkan upaya ini tidak memiliki arti secara defenitif
      Hal yang tidak kalah pentingnya dalam upaya pemeliharaan benda-benda purbakala dan upaya menemukan peninggalan lain yang diperkirakan masih ada di sepanjang tepi sungai Walanae, adalah kebijakan pemerintah daerah dalam bentuk bantuan dana untuk mengadakan eskapasi.[] 
 
Pernah dimuat di Harian Pedoman Rakyat 18 Januari 2004.
     
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar